SmS : 0812 8657 6168

mferrywong@yahoo.com

 

Konseling & Terapi

Home Care Therapy + Conseling

(Sesuai Perjanjian)

 

WA. 0812 8657 6168, BBM 7f9aaabc

 

SIPT : 448/77/SIPT/DINKES/XII/2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bulan Pembersihan Diri

Jurnal Bogor, 13 & 14  August 2010
Rubrik:
Halaman Depan

 

Secara alamiah, manusia dalam hidupnya berupaya meraih ketenteraman hati dan ketenangan pikiran. Namun kenyataannya, manusia seringkali mengalami gelisah, resah, gundah hati dan kacau pikiran.
Banyak faktor yang menyebabkan kegelisahaan menghantui manusia. Kerumitan dan kesulitan hidup serta kekeringan hati dari ingat kepada Allah, kadangkala terasa menyakitkan dan menyesakkan dada.

Dalam kondisi ini, manusia merasa seolah-olah pintu jalan keluar telah tertutup rapat-rapat dan dunia yang membentang luas ini nampak sempit. Sebagian filsuf Barat menganalisis bahwa penyebab kegelisahan manusia adalah rasa terasing dan terputusnya hubungan dari sumber segala kebaikan, kesucian dan keindahan, yakni Allah Swt.  Salah satu alat untuk tidak terputusnya hubungan dengan Allah, yakni melakukan puasa, terutama puasa Ramadhan.

Jalaluddin Rumi pernah bercerita tentang seorang penduduk Konya yang punya kebiasaan aneh; ia  suka  menanam  duri  di tepi jalan. Ia menanami duri itu setiap hari sehingga tanaman berduri itu tumbuh besar. Mula-mula orang tidak merasa terganggu dengan duri itu. Mereka mulai protes ketika duri itu mulai bercabang dan menyempitkan jalan orang yang melewatinya. Hampir setiap orang pernah tertusuk durinya. Yang menarik, bukan orang lain saja yang terkena tusukan itu, si penanamnya pun berulang kali tertusuk duri dari tanaman yang ia pelihara.

Petugas Kota Konya lalu datang dan meminta agar orang itu menyingkirkan tanaman berduri itu dari jalan. Orang itu enggan untuk menebangnya. Tapi akhirnya setelah perdebatan yang panjang, orang itu berjanji untuk menyingkir-kannya keesokan harinya. Ternyata di hari berikutnya, ia menangguhkan pekerjaannya itu. Demikian pula hari berikutnya. Hal itu terus menerus terjadi, sehingga akhirnya, orang itu sudah amat tua dan tanaman berduri itu kini telah menjadi pohon yang amat kokoh. Orang itu tak sanggup lagi untuk mencabut pohon berduri yang ia tanam.
Di akhir cerita, Rumi berkata: “Kalian, hai hamba-hamba yang malang, adalah penanam-penanam duri. Tanaman berduri itu adalah kebiasaan-kebiasaan buruk kalian, perilaku yang tercela yang selalu kalian pelihara dan sirami. Karena perilaku buruk itu, sudah banyak orang yang menjadi korban dan korban yang paling menderita adalah kalian sendiri. Karena itu, jangan tangguhkan untuk memotong duri-duri itu. Ambil-lah sekarang kapak dan tebang duri-duri itu supaya orang bisa melanjutkan perjalanannya tanpa terganggu oleh kamu.”

Perjalanan para pelaku puasa Ramadhan  dimulai dengan pembersihan diri dengan pemangkasan duri-duri yang kita tanam melalui perilaku kita yang tercela. Jika tidak segera dibersihkan, duri itu satu saat akan menjadi terlalu besar untuk kita pangkas dengan memakai senjata apa pun. Praktik pembersihan diri itu dalam tasawuf disebut sebagai praktik takhliyyah, yang artinya mengosongkan, membersihkan, atau mensucikan diri. Seperti halnya jika kita ingin mengisi sebuah botol dengan air mineral yang bermanfaat, pertama-tama kita harus mengosongkan isi botol itu terlebih dahulu. Sia-sia saja bila kita memasukkan air bersih ke dalam botol, bila botol itu sendiri masih kotor. Proses pembersihan diri itu disebut takhliyyah. Kita melakukan hal itu melalui beberapa cara.

(Bersambung)

 

Jurnal Bogor, 14  August 2010
Rubrik:
Halaman Depan

Seperti halnya jika kita ingin mengisi sebuah botol dengan air mineral yang bermanfaat, pertama-tama kita harus mengosongkan isi botol itu terlebih dahulu. Sia-sia saja bila kita memasukkan air bersih ke dalam botol, bila botol itu sendiri masih kotor. Proses pembersihan diri itu disebut takhliyyah. Kita melakukan hal itu melalui beberapa cara.

Pertama, lapar. Upaya untuk membersihkan diri dari ketundukan kepada hawa nafsu. Menahan lapar, yang merupakan bagian paling terasa dalam berpuasa Ramadhan, ternyata menghasilkan banyak keuntungan dalam perjalanan seorang pusuluk, yaitu penempuh jalan Allah, termasuk didalamnya orang yang berpuasa Ramadhan, akan selalu setia melangkah di jalan Allah.
Setiap langkahnya, dari sudut pandang kearifan dan pengetahuan Allah, akan memberikan kemajuan dalam meraih kesempurnaan spiritual. Hal ini telah ditandaskan dalam banyak riwayat dan hadits. “Perangilah dirimu sendiri (jihadun-nafs) dengan melalui rasa lapar dan dahaga, yang pahalanya setara dengan pahala mereka yang berperang di jalan Allah. Tiada satupun yang lebih utama dalam pandangan Allah ketimbang menahan rasa lapar dan dahaga selama berpuasa.” 
Kedua, diam. Upaya untuk mem-bersihkan hati dari penyakit-penyakit yang tumbuh karena kejahatan lidah. Tentang diam, Rasulullah pernah mendapat penjelasan langsung dari Allah : ”Buah dari diam adalah kebijaksanaan, buah kebijaksanaan adalah pencerahan, buah dari pencerahan adalah keyakinan.

Ketika seseorang memperoleh kedudukan spiritual yang mulia dari keyakinan, maka ia tidak peduli lagi bagaiamana mengawali harinya, apakah dengan mudah atau sulit, dengan kesedihan atau kenyamanan. Keadaan seperti ini adalah keadaan yang dirasakan oleh orang-orang yang telah mencapai maqom ridho dan barangsiapa meraih maqom ini, berarti ia telah memperoleh tiga karakteristik yang menyatu dalam dirinya : syukur yang tidak terkontaminasi dengan kejahilan, dzikir yang tidak tercampur dengan kelalaian dan cinta yang tidak tercampur dengan cinta kepada selain Aku.”

Ketiga, adalah  shaum di bulan Ramadhan. Tugas terpenting dari seorang pesuluk di bulan yang suci dan barokah ini adalah memahami hak bulan Ramadhan  ketika Allah berkenan mengundang seluruh mukmin, para pesuluk yang berada di jalan-Nya, untuk menghadiri sebuah perjamuan istimewa. Seorang pesuluk, seharusnya memahami makna hakiki berpuasa dan relevansinya dengan undangan Allah Swt tersebut. Setelah berhasil menyingkap makna hakiki dan relevansi itu, ia mesti berupaya keras meletakkan semua sikap dan tindak-tanduknya dalam bingkai ridho Ilahi. Setiap perbuatannya haruslah didasari niat berkhidmat dan berlaku ikhlas guna meraih ridho Sang Tuan Rumah yang Maha Pemurah, Allah SWT.

Setelah menempuh praktik pembersihan diri itu, para pelaku puasa Ramadhan  kemudian mengamalkan praktik tahliyyah. Yang termasuk pada golongan ini adalah praktik zikir dan khidmah atau pengabdian kepada sesama.

Salah satu bentuk nyatanya adalah membantu saudara-saudara kita yang kelaparan dan kehausan. Ketika kita membantu mereka, martabat kita langsung mulia dihadapan Allah. Manusia-manusia yang lapar dan haus ini merupakan lambang sosial yang harus diperhatikan oleh mereka-mereka yang selama ini berlebihan dalam hal makanan dan minuman. Keduanya baik yang lapar atau haus, maupun yang kenyang saling membutuhkan. Kedua kondisi ini, dalam pandangan Allah tetaplah sama.
Oleh karena itu di bulan Ramadhan ini, mereka-mereka yang mempunyai harta dan makanan serta minuman yang berkecukupan haruslah mengambil kesempatan atau momen ini secara cerdas. Jangan ada pikiran di benar orang kaya, bahwa ketika kita membantu orang-orang yang lapar dan haus. Seolah-oleh si kaya membantu si miskin. Pendapat itu salah besar. Karena, lewat membantu orang-orang yang susahla, martabat orang-orang kaya menjadi mulia di mata Allah. Kalau pemahamannya sudah demikian, insya Allah lambat laun orang-orang yang miskin atau orang-orang yang lapar dan haus akan semakin berkurang.

Sudah saatnya kita harus memikirkan nasib mereka. Di bulan Ramadhan inilah waktunya kita memulai langkah-langkah kebaikan. Lebih sempurna lagi, kita berperilaku sosial bukan hanya di bulan Ramadhan saja. Akan  tetapi, setiap saat kita harus memperhatikan, memikirkan  dan membantu nasib mereka. Agar setiap saat, diri kita martabatnya menjadi mulia di bulan Ramadhan. Kalau sudah begitu, membantu orang-orang yang susah atau peduli kepada orang lain, merupakan sebuah life style yang positif dan moderen. Semoga kita semua, bisa melakukannya.
Ya Allah. Sesungguhnya aku menyembah-Mu dan menundukkan kepalaku dalam penghambaan, bukanlah karena gairah hati akan surga, ataupun karena takut api neraka. Melainkan, aku menyembah-Mu karena aku menganggap bahwa Engkaulah memang Zat yang pantas disembah.
Amin ya Robbal ‘Alamin.

 

Sumber :

http://www.jurnalbogor.com/?p=119315

http://www.jurnalbogor.com/?p=119551