SmS : 0812 8657 6168

mferrywong@yahoo.com

 

Konseling & Terapi

Home Care Therapy + Conseling

(Sesuai Perjanjian)

 

WA. 0812 8657 6168, BBM 7f9aaabc

 

SIPT : 448/77/SIPT/DINKES/XII/2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Herbalpun Timbulkan Dampak Sampingan

Jurnal Bogor, 13 July 2009 oleh jayadi
Rubrik : Kesehatan

 

Bogor- Meskipun terbuat dari bahan alam, herbal juga mengandung zat kimia aktif seperti obat-obatan kimia pada umumnya. Karena itu, penggunaan herbal sebaiknya dikonsultasikan dengan ahli yang mendalami masalah herbal. Dari hasil beberapa penelitian ternyata beberapa tanaman pun dapat menimbulkan reaksi dampak sampingan, mulai dari gejala yang ringan sampai dengan syok anafilaktik. Begitulah yang diungkapkan Ust. Ferry Wong, pakar pengobatan herbal kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Dalam beberapa kasus yang ditemukan Ferry, ada seorang pasien yang pingsan setelah minum ramuan mahkota dewa. Setelah diusut ternyata pasien tersebut ingin sembuh dari penyakit hipertensi, sehingga ia merebus lima buah mahkota dewa berikut bijinya. Air rebusan itu lalu dia minum sebanyak-banyaknya dengan harapan penyakitnya cepat sembuh yang kemudian membuatnya pingsan karena tekanan darah yang turun drastis.

Contoh kasus lainnya ialah ada seorang pasien yang masih remaja juga pingsan gara-gara ikut-ikutan ibunya minum ramuan jati belanda untuk melangsingkan badan. Padahal dia punya masalah dengan maag, sementara jati belanda punya efek mengiritasi lambung. “Dengan adanya dua contoh kasus di atas, diharapkan masyarakat bisa lebih berhati-hati mengkonsumsi obat herbal. Sebab bila takaran tidak tepat, alih-alih si obat herbal malah menjadi tidak aman bagi tubuh serta kesehatan manusia,” ujar Ferry.

Pria yang telah menekuni dunia pengobatan semenjak 2005 itu mengatakan, ketepatan dalam memilih jenis obat herbal harus disesuaikan dengan riwayat kesehatan pasien, sehingga tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan jiwa. “Jika memang ingin menggunakan obat herbal, ada baiknya juga berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau ahli tanaman obat agar obat herbal yang diperoleh benar-benar aman untuk dikonsumsi dan menggunakan teknologi terstandar,” terangnya.

Bila standarisasi bahan yang terkandung dalam syarat evidence based medicine itu dipenuhi, sambung Ferry, maka obat herbal dengan harga terjangkau dan bahan yang mudah didapat bisa terpenuhi. Hal yang paling mendasar yaitu Standard Operational Procedur (SOP) dalam penanaman tumbuhan obat herbal. “Contoh-contoh pengobatan herbal terstandar ialah daun jambu biji untuk antidiare, jati belanda sebagai pelangsing, daun katuk bermanfaat sebagai stimulator ASI, ginseng sebagai penambah stamina, jahe untuk obat rematik serta nyeri sendi, temulawak sebagai antiradang, dan ginkobiloba sebagai pelancar peredaran darah,” papar Ferry.

Dilanjutkan pria berkacamata itu, walau herbal memiliki kekurangan, namun kelebihan dari pengobatan yang mengandalkan alam ini juga banyak. Diantaranya, memiliki efek samping yang saling mendukung jika berada dalam satu ramuan dengan komponen yang berbeda, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi untuk penyakit-penyakit yang diakibatkan pertukaran zat di dalam tubuh dan keturunan, harga terjangkau, membantu proses penyembuhan, hingga memperbaiki metabolisme tubuh semua organ.
“Obat herbal tradisional tentu menjadi pilihan yang sangat tepat bagi masyarakat Indonesia, mengingat harga obat-obatan kimiawi saat ini kian melambung saja. Namun, tak menutup kemungkinan harga obat herbal pun akan semakin mahal bila sudah diolah dalam bentuk simplisia yang dikeringkan, berupa teh atau kapsul, bahkan akan menjadi semakin mahal lagi jika dalam bentuk ekstrak,” katanya.

 

Nasia Freemeta I

Sumber : http://www.jurnalbogor.com/?p=40013